Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Jun 11, 2014 in Berita Terbaru | 0 comments

Berdamai, Dua Suku di Mimika Gelar Upacara Patah Panah

Berdamai, Dua Suku di Mimika Gelar Upacara Patah Panah

Dua suku yang bertikai di Mimika, Papua, yakni Suku Moni dan Dani, hari Rabu (11/6) ini akan melangsungkan Upacara Patah Panah. Upacara sebagai simbol perdamaian guna mengakhiri konflik kedua suku sejak awal tahun ini.

Menurut Kapolda Papua, Tito Karnavian, masing-masing suku yang bertikai sedang mempersiapkan upacara tersebut di daerah sekitar Kwamki Lama.

Kepolisian, kata Tito, terus memberikan pengertian kepada dua suku yang bertikai ini bahwa penemuan dua jenazah beberapa hari lalu di Kwamki Lama murni aksi kriminal. Kasus ini tak berkait dengan dengan bentrok antarsuku tersebut.

“Kegiatan patah panah terus berlanjut. (Soal) yang dua (jenazah) ini kita sosialisasikan (ke kedua suku). Malah kasus (ini) kan belum terbukti nih, kaitannya dengan perang suku. Jadi kita minta agar korban memahami bahwa ini kasus kriminal. Jadi kita akan upayakan ungkap dan tegakkan hukum, tangkap pelakunya,” ujar Tito Karnavian kepada Portalkbr, Rabu (11/6).

Dalam penyelesaian kasus ini, Pemprov Papua menolak membayar “denda kepala” kepada kedua suku yang bertikai. Saat bertemu kedua suku beberapa waktu lalu, Gubernur Papua Lukas Enembe menyebutkan, kalaupun ada dana untuk perdamaian ini, sifatnya sebagai bantuan, bukan pembayaran adat “denda kepala”.  Padahal, sebelumnya kedua suku menuntut pemerintah setempat untuk membayar “denda kepala” sebesar Rp80 miliar sebagai pengganti korban tewas dalam bentrokan ini.

Konflik di Mimika pada 29 Januari lalumenewaskan sekitar 19 orang, sementara ratusan lainnya luka-luka. Kedua suku yang bertikai kerap menyelesaikan masalah ini dengan berperang menggunakan senjata tajam, tombak dan panah. Namun, akar masalah tak pernah selesai.

Akar masalah konflik di Mimika, tepatnya di Kampung Jayanti Iwaka adalah memperebutkan tanah di sekitar lahan irigasi yang berada di jalan trans Mimika-Paniai. Kepolisian setempat menduga perebutan lahan ini ada aktor intelektual yang mendalanginya, sebab nilai ekonomis lahan itu sangat menguntungkan.

Sumber : Portalkbr.com

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>