Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on May 8, 2014 in Berita Terbaru, Wisata | 0 comments

Kelestarian Teluk Cenderawasih Terancam

Kelestarian Teluk Cenderawasih Terancam

Pembukaan Lahan dibeberapa wilayah di Kabupaten Nabire, Kabupaten Teluk Wondama dan Ransiki Kabupten Manokwari Selatan menjadi ancaman bagi kelestarian Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

Pembukaan lahan diwilayah tersebut dapat mengakibatkan sedimentasi terumbu karang yang berkembang di wilayah bahari Taman Nasional.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cinderawasih (BBTNTC) Ben Saroy, Rabu (7/5/2014), menyebut di 3 wilayah ini terdapat 4 Logpon atau pelabuhan pengiriman kayu. 2 logpon berada dibidang wilayah satu Nabire dan  2 logpon lainnya masing-masing berada di bidang wilayah 2 Wondama dan dibidang wilayah 3 Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan.

Dijelaskan, kondisi terkini Taman Nasional Teluk Cinderawasih masih cukup bagus dengan potensi terumbu karang terluas di Indonesia dan satwa laut yang cukup beragam. Seperti halnya hiu yang cukup berkembang populasinya di daerah Nabire.

“Cukup banyak faktor yang menjadi penyebab kerusakan habitat laut di wilayah Taman Nasional, diantaranyapraktek pengeboman ikan, dan penggunaan racun sianida dalam mencari ikan.  Adapula, aktifitas didarat yang dapat mengancam ekologi laut di wilayah taman Nasional, seperti membukaan lahan,” uajrnya.

Terkait 4 longpon ditiga wilayah itu, jelas Saroy yang paling berbahaya dan dapat mengancam kelestarian habitat, yakni aktivitas pembukaan lahan disekitar longpon.

“Pembukaan lahan itu akan menyebabkan terjadinya run off atau aliran airyang membawa lumpur menuju ke laut. Selanjutnya lumpur-lumpur itu akan menyebabkan terjadinya sedimentasi atau penutupan terumbu karang. Jika karang tertutup, maka karang tidak akan bisa bernafas hingga akhirnya mati,”jelasnya.

Ia menambahkan, 3 logpon yakni 2 di Nabire dan 1 di Wondamamasih berjalan hingga sekarang sehingga dirinya berharap aktivitas pembukaan lahansegera dihentikan agar karang dapat berkembang dengan cepat.

Disinggung soal praktek pengeboman ikan dan penggunaan racun sianida diwilayah Taman Nasional, Saroy menyebut, saat ini praktek itu sudah berkurang menyusul adanya staf dari BBTNTC dan WWF.

Yang lebih berpotensial menjadi ancaman kerusakan bagi kawasan Taman Nasional Teluk Cinderasih menurut Saroy adalah perubahan iklim.

“Letak TNTC relatif tertutup, sehingga sirkulasi air dan fluktuasi suhu relatif kecil. Jika  peningkatan atau pun penurunan suhu  terjadi secara derastis maka, kemungkinan besar terumbu karang akan banyak yang mati,” tuturnya.

Saat ini tanda-tanda perubahan iklim itu sudah mulai terjadi diwilayah Manokwari dan sekitarnya. Kendati belum secara drastis namun perubahan itu sudah terasa. Diprediksi peningkatan yang cukup tinggi akan terjadi pada tahun 2020.

“Kita berharap perubahan iklim itu jangan terjadi secara derastis. Sebab jika itu terjadi akan banyak terumbu karang yang mati,” pungkasnya.

Sumber : Suluhpapua.com

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>