Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Jan 14, 2015 in Berita Terbaru, Opini | 0 comments

Warga Sipil Papua di Tengah Perang Antara Aparat Keamanan dan Kelompok Ayub Waker

Warga Sipil Papua di Tengah Perang Antara Aparat Keamanan dan Kelompok Ayub Waker

Oleh :Evha Uaga

Awal tahun 2015, di mana berbagai pihak, baik dari pemerintah dan berbagai tokoh-tokoh Papua berupaya meniti jalan menuju dialog damai Papua, terjadi peningkatan tensi antara aparat keamanan dan kelompok-kelompok bersenjata OPM. Sebenarnya gesekan yang kemudian menjadi kontak senjata antara kelompok-kelompok bersenjata OPM dan aparat keamanan sudah sering terjadi, tetapi hal yang sangat disayangkan adalah gesekan itu terjadi ketika semangat menyelesaikan konflik Papua lewat jalan dialog damai sedang membuncah di antara pemerintah, tokoh-tokoh Papua dan rakyat Indonesia di Papua. Kedua pihak saling ancam, saling ultimatum dan saling menembakan senjata, yang paling current adalah gesekan antara kelompok Ayub Waker dengan aparat keamanan.

Gesekan antara aparat keamanan dan kelompok Ayub Waker sudah berlangsung hampir 2 minggu, berawal dari tanggal 1 Januari 2015 hingga saat ini, berikut kronologisnya:

  • 1 Januari 2015, di Tembagapura, Mimika, 2 Anggota Brimob atas nama Bripda Riyan Hariansyah (22) dan Bripda M. Adpriadi (22) dan Suko Miartono yang kesehariannya bekerja sebagai sekuriti PT Freeport tewas dengan sejumlah luka bacok benda tajam di sekujur tubuhnya saat melaksanakan patroli di sekitar Utikini, Kota Timika, Papua. Dua pucuk senjata api milik korban diambil oleh pelaku penyerangan.
  • 2 Januari 2015, Kapolda Papua, Irjen Polisi Yotje Mende, mengatakan bahwa pelaku penyerangan di Mimika adalah kelompok Ayub Waker. Pihak kepolisian mengetahui hal tersebut setelah melihat surat pernyataan di lokasi kejadian. Yotje Mende juga mengultimatum kelompok Ayub Waker agar menyerahkan diri dan mengembalikan senjata yang mereka rampas.
  • 3 Januari 2015, di Kampung Utikini Atas atau Kampung Weni Atas terjadi kontak senjata antara kelompok Ayub Waker dengan aparat kemanan dari kesatuan Brimob.
  • 6 Januari 2015, di sekitar Kampung Utikini, Kabupaten Mimika, terjadi kontak senjata antara kelompok Ayub Waker dengan aparat keamanan, ketika aparat keamanan mencoba untuk menyerbu markas kelompok Ayub Waker, 114 warga diamankan karena memiliki ID West Papua
  • 7 Januari 2015, aparat keamanan menangkap 12 orang dari kelompok Ayub Waker, dari 12 orang yang ditangkap, seorang diantaranya cedera atas nama Kamaniel Waker, dikantong bajunya ditemukan secarik kertas intinya mengatakan bahwa kasus di Kampung Utikini sudah selesai dan selanjutnya mereka akan kembali melakukan aksinya di tempat lain di Kabupaten Mimika. Sedangkan 11 orang lainnya yang diamankan bersama Kamaniel Waker, ditangkap aparat setelah menyerahkan diri.
  • 9 Januari 2015, Polda Papua menerima surat ancaman dari Kelompok Ayub Waker.  Surat ancaman itu dikirim ke Polsek Tembagapura menggunakan anak panah yang ditembakkan dari atas gunung oleh anggota kelompok Ayub Waker. Isinya menegaskan bahwa perang akan terus dilakukan oleh kelompok Ayub Waker di Timika.
  • 11 Januari 2015, Ayub Waker mengeluarkan pernyataan bahwa ia bertanggung jawab atas penyerangan dan perampasan yang terjadi pada 1 Januari 2015 malam. Ia juga mengatakan tidak akan menyerahkan diri dan menyerahkan senjata yang sudah ia rampas seperti yang diultimatumkan oleh Yotje Mende. Goliath Tabuni, salah satu pemimipn kelompok bersenjata OPM dengan anggota yang terbesar mengatakan bertanggungjawab terhadap apapun yang dilakukan kelompok Ayub Waker.
  • 13 Januari 2015, Yotje Mende menyampaikan bahwa ia sudah melihat pernyataan dari Ayub Waker dan tidak gentar dengan pernyataan Ayub Waker tersebut. Selain itu, Yotje juga mengatakan untuk memutus mata rantai pasokan bahan makanan ke kelompok Ayub Waker, ia meminta agar para pendulang liar di sepanjang bantaran Kali Kabur, terutama di wilayah Utikini Lama hingga Banti, Distrik Tembagapura agar berhenti memasok bahan makanan dan uang kepada kelompok Ayub Waker.

Dari deretan kronologis di atas, paling tidak ada beberapa hal yang bisa menjadi poin penting. Pertama, kedua pihak, baik aparat kemanan maupun kelompok Ayub Waker memiliki pandangan yang berbeda terhadap Papua sehingga kemungkinan gesekan akan terus terjadi. Hal ini ditambah keduanya memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap kekuatan kelompoknya masing-masing. Pihak aparat keamanan memiliki senjata dan anggota yang mumpuni, sedangkan kelompok Ayub Waker menganggap bahwa kelompoknyalah yang menguasai medan perang, serta dukungan dari Goliath Tabuni, salah pimpinan kelompok bersenjata OPM yang paling disegani. Kepercayaan diri yang tinggi ini bisa berakibat kepada sulitnya kedua pihak untuk duduk bersama menyelseikan permasalahan tanpa adanya peluru yang ditembakan.

Kedua¸ duduknya kedua pihak dalam permasalahan ini saya pikir penting, karena selalu saja bila terjadi gesekan antara kelompok bersenjata OPM dengan aparat keamanan, ada saja warga sipil yang menjadi korban atau dikorbankan. Saya tidak hanya memakai kata “menjadi korban” tetapi juga “dikorbankan” karena dalam beberapa kasus, para anggota kelompok bersenjata dalam pelariannya bersembunyi diantara warga sipil, atau menggunakan warga sipil untuk membantu pelarian mereka. Dalam kasus ini kita bisa melihat para pendulang liar yang menjadi pemasik bahan makanan dan uang ke kelompok Ayub Waker. Para warga sipil yang “membantu” anggota kelompok OPM ini terkadang bukan simpatisan OPM, tetapi memiliki hubungan keluarga atau suku dengan anggota yang ia bantu tersebut. Sehingga ketika “membantu”, yang mereka pikir adalah membantu angota keluarga atau suku bukan membantu anggota OPM.

Perang atau gesekan antara aparat keamaman dengan kelompok-kelompok OPM bersenjata mungkin masih akan berlanjut. Kedua pihak seharusnya tidak melibatkan warga sipil dalam perang di antara mereka, termasuk bersembunyi di antara warga sipil Papua atau meminta bantuan warga sipil Papua dalam pelariannya, karena hal itu sama saja menjadikan warga sipil yang tidak bersenjata sebagai tameng. Di lain pihak, warga sipil Papua seyogyanya tidak terjebak dalam konflik 2 pihak yang bersenjata, melibatkan diri dalam konflik 2 pihak yang bersenjata sama saja memberi kesulitan terhadap diri sendiri.

Konflik di Papua sudah terjadi selama beberapa dekade, sambutan hangat beberapa tokoh Papua serta rakyat Indonesia di Papua terhadap gagasan dialog damai Papua oleh Jokowi seakan menjadi angin segar terselesainya konflik di Papua. Sayangnya beberapa kelompok bersenjata OPM merusak angin segar tersebut, hingga titian jalan menuju dialog damai Papua menjadi semakin terjal dan berliku.

Sumber : Kompasiana

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>