Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Nov 27, 2014 in Berita Terbaru, Opini | 0 comments

Yang Terlupa dari Para Aktivis Papua Merdeka: Sebuah Catatan Jelang Hari AIDS Sedunia

Yang Terlupa dari Para Aktivis Papua Merdeka: Sebuah Catatan Jelang Hari AIDS Sedunia

 

Oleh : Evha Uaga

 

Beberapa hari sebelum bulan November berganti Desember. Biasanya akan banyak kesibukan di Papua bila berada pada masa saat ini setiap tahunnya, karena 1 Desember seringkali diperingati oleh para aktivis Organisasi Papua Merdeka, baik dari kelompok-kelompok faksi militernya maupun dari kelompok-kelompok faksi politiknya. Aksi-aksi semacam pengibaran bendera bintang kejora, aksi unjuk rasa atau bahkan penyerangan oleh kelompok-kelompok dari faksi militer OPM bisa saja terjadi. Oleh sebab itu, aparat keamanan di Papua pun dipastikan akan sibuk di saat seperti ini, beberapa hari sebelum 1 Desember.

Hal tersebut juga terjadi tahun ini, beberapa hari sebelum 1 Desember, beberapa pihak sudah mengeluarkan pernyataan. Lukas Enembe, Gubernur Papua menyampaikan bahwa tanggal 1 Desember setiap tahun jangan dijadikan tradisi untuk menakut-nakuti masyarakat sehingga membuat situasi di Papua menjadi tidak aman. Ia juga mengatakan bahwa momentum setiap bulan Desember di Papua hendaknya dijadikan sebagai sebuah kegembiraan rakyat menyambut datangnya hari raya Natal, tanpa diwarnai dengan rasa ketakutan, teror, dan intimidasi. Sedangkan Kapolda Papua Irjen Pol Yotje Mende menyatakan ketegasannya untuk menindak kelompok yang berani mengibarkan bendera Bintang Kejora di Papua dan Papua Barat, terutama pada tanggal 1 Desember mendatang.

Semua pihak seakan tertuju bahwa 1 Desember adalah hari untuk mengibarkan bintang kejora. Mereka lupa bahwa tanggal 1 Desember juga merupakan hari penting terkait usaha menjaga eksistensi orang Papua dari ancaman kepunahan. 1 Desember, adalah hari AIDS Sedunia.

Salah satu permasalahan pelik yang terjadi di Papua adalah penyebaran HIV/Aids yang begitu besar di daerah ini. Kasus HIV/AIDS di Tanah Papua terus naik bagaikan roket sejak terdeteksi pertama kali tahun 1992. Sampai Maret 2011 kasus kumulatif HIV/AIDS di Prov Papua mencapai 7.319 yang terdiri atas 3.378 HIV dan 3.941 AIDS. Hingga yang terakhir, tercatat dalam data yang dilansir dari Ditjen PP & PL Kemenkes RI yang dikeluarkan Maret 2014 lalu, dalam triwulan pertama 2014 Papua adalah “juara pertama” dalam hal penyebaran HIV/AIDS. Untuk data selengakapnya, silahkan dilihat dibawah.

 Kasus AIDS Berdasar Prov

Prevelensi Kasus AIDS per 100.000 penduduk berdasarkan Provinsi. Sumber (http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf)

 

jumlah kumulatif AIDS

Jumlah Kumulatif Kasus HIV dan AIDS berdasarkan Provinsi. Sumber (http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf)

Budaya Menjadi Salah Satu Faktor Penyebaran HIV/AIDS

Dalam tradisi dan adat istiadat beberapa suku di Papua memang berpotensi mengarahkan anggota suku tersebut pada perilaku seks bebas, yang menjadi faktor utama penyebaran HIV/AIDS di Papua. Sebut saja Upacara Papisj di daerah Suku Asmat. Upacara Papisj ini diselenggarakan untuk menghormati korban perang (Mbois Pokmbui). Dalam Upacara Papisj bukan saja hubungan seks secara konsep biologis, melainkan hubungan seks sebagai lambang ketika warga saling memberi dan menerima kekuatan hidup, memberi dorongan atau semangat. Seks dijadikan sebagai jembatan keserasian sosial, ungkapan perasaan mendalam untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi teman. Saat ini upacara Papisj tidak lagi seperti dulu karena penyuluhan pemerintah dan pengaruh Gereja dalam masyarakat Papua, tapi ada beberapa desa yang masih melaksanakan upacara ini.

Degradasi pemaknaan nilai budaya pun terjadi di Papua oleh generasi muda Papua saat ini, budaya yang berarti baik, disalahgunakan. Sebut saja budaya tukar gelang di wilayah suku Dani Barat, dan tari tumbuh tanah di daerah Manokwari, yang dahulu dilakukan oleh orangtua mereka pada masa remaja untuk mencari jodoh, kini berubah makna menjadi pencarian rekan untuk berhubungan seks.

Penyangkalan Lelaki Papua dan Politisasi Permasalahan AIDS

Selama ini sering disebarkan isu oleh aktivis-aktivis dalam organisasi turunan OPM, yang mayoritas lelaki, yang menyebutkan bahwa HIV AIDS merupakan usaha pemerintah Indonesia untuk melakukan genosida di Papua. Agak aneh kalau saya pikir, setahu saya yang dimaksud dengan Genosida adalah pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras bisa dilakukan dengan penyakit bersifat wabah (penyakit menular yg berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas, misalnya dengan cacar, disentri, kolera). Artinya, penyakit itu bisa menular melalui udara dan air sehingga sulit dihindari. Sedangkan HIV/AIDS bukan wabah karena tidak menyebar dengan cepat dan tidak pula bisa disebarkan melalui udara dan air. Penyebarannya bisa ditanggulangi dengan cara-cara yang realistis yang bisa dilakukan oleh orang per orang.

Teori-teori konspirasi pun berkembang secara liar, para Pekerja Seks Komersial (PSK) di Papua dianggap sebagai ”agen” Genosida terselubung oleh Pemerintah Indonesia lewat penyebaran HIV/AIDS. Pertanyaannya adalah, bila memang menganggap seperti itu, kenapa lelaki Papua masih menggunakan jasa PSK? Mudah mencari ”kambing hitam” dalam berbagai permasalahan, yang sulit adalah mengakui bahwa kesalahan sendiri terhadap permasalahan tersebut. Selain itu, penyebaran HIV/AIDS belum tentu disebarkan oleh para penyedia jasa PSK tersebut.

1 Desember 2014, Papua Mau Apa?

Selama ini para aktifis Papua Merdeka selalu mengklaim bahwa mereka memperjuangkan Orang Asli Papua (OAP) agar tidak mengalami kepunahan. Dari data di atas, jelas bahwa HIV/AIDS adalah salah satu sumber yang akan berpotensi “memunahkan” OAP. Selama ini memang banyak aktivis Papua yang menyuarakan tentang HIV/AIDS di Papua, sayangnya permasalahan-permasalahan tersebut hanya dijadikan isu dengan bumbu-bumbu politik saja, tanpa ada tindakan kongkrit.

Hari AIDS sedunia, 1 Desember nanti bisa menjadi momen bagus untuk pemuda, tokoh-tokoh Papua dan pemerintah Papua untuk menyebarkan pengetahuan dan kepedulian tentang HIV/AIDS di Papua. Sehingga prilaku seks yang aman dapat menekan penyebaran HIV/AIDS di tahun-tahun yang akan datang. Sayangnya, 1 Desember nanti para pendukung OPM dan kelompok-kelompok turunannya akan sibuk mengibarkan bendera bintang kejora, sedangkan pemerintah dan aparat keamanan akan sibuk menurunkan bendera tersebut.

Semua orang di dunia tahu bila 1 Desember adalah hari AIDS se-dunia, kecuali di Papua, salah satu wilayah yang mempunyai permasalahan besar tentang HIV/AIDS. Ironis.

Sumber : Kompasiana

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>